Judul: NATAPPII SANRU’NA dan SEBBO PABBARESSENG (Analisis Pantangan dalam Rumah Tangga Masyarakat Bugis)
Penulis: Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd, dkk
Tebal Halaman: (x+145 Hlm)
Ukuran Buku: 15,5 x 24 cm
ISBN: sedang dalam proses
Berat buku: 350 gr
Sinopsis:
Buku NATAPII SANRU’NA dan SEBBO PABBARESSENG mengkaji secara mendalam makna, fungsi, dan dinamika pantangan (pemmali’) dalam kehidupan rumah tangga Masyarakat Bugis sebagai bagian dari kearifan lokal yang membentuk karakter, moralitas, serta tatanan sosial keluarga. Berangkat dari realitas Indonesia sebagai bangsa majemuk, karya ini memosisikan budaya Bugis dalam lanskap kebhinekaan nasional yang kaya nilai dan tradisi, khususnya dalam konteks Sulawesi Selatan sebagai ruang hidup masyarakat yang menjunjung tinggi adat, kehormatan, dan religiusitas.
Melalui pendekatan historis, sosiokultural, dan edukatif, buku ini menguraikan bagaimana nilai-nilai pangadereng—ade’, bicara, rapang, wari, dan sara’—mewarnai praktik perkawinan hingga pengelolaan rumah tangga. Konsep Natapii Sanru’na merefleksikan kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam memilih pasangan hidup sebagai fondasi keluarga ideal, sejalan dengan teori konvergensi yang menekankan sinergi antara faktor keturunan dan lingkungan dalam membentuk generasi unggul. Di sisi lain, istilah Sebbo Pabbaresseng menjadi simbol kritik moral terhadap perilaku boros dalam pengelolaan keuangan rumah tangga, sekaligus peringatan etis bagi perempuan Bugis agar menjaga keseimbangan, tanggung jawab, dan kecakapan finansial sebagai pilar keharmonisan keluarga.
Buku ini menyoroti bagaimana pantangan bukan sekadar larangan tradisional, melainkan medium pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai religius, sosial, dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Pemmali’ dipahami sebagai instrumen budaya yang mengarahkan perilaku, menjaga stabilitas rumah tangga, serta mencegah konflik yang berpotensi merusak ikatan sakral perkawinan. Dalam konteks modern, penulis juga mengkritisi ketegangan antara ekspektasi budaya dan realitas sosial, termasuk persoalan ekonomi, dinamika relasi suami-istri, hingga dampak psikologis perceraian.
Dengan menggali sejarah sebagai dialog antara masa lalu dan masa kini, buku ini menawarkan refleksi kritis bahwa tradisi Bugis bukanlah warisan statis, melainkan entitas dinamis yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Karya ini menjadi kontribusi penting bagi studi budaya, pendidikan karakter, dan antropologi keluarga, sekaligus mengajak pembaca memahami bahwa di balik setiap pantangan tersimpan filosofi hidup yang menuntun manusia menuju keluarga harmonis, bermartabat, dan berkelanjutan.






Ulasan
Belum ada ulasan.